Pages

Rabu, 07 Mei 2014

Resume Buku : Teori Sastra Kontemporer & 13 Tokohnya— Muhammad A. Syuropati



Resume Buku :
Teori Sastra Kontemporer & 13 Tokohnya—
Muhammad A. Syuropati

Oleh :
Fahrul Rozi
1125020032
بســــــــــــــم الله الرحمن الرحيم

Formalisme Rusia

P
ada tahun 1910-1915 muncul gerakan Avan garde sebagai gerakan futurisme... dari sinilah lahir Formalisme Rusia yang pada gilirannya menjadi titik awal munculny ailmu sastra modern. Gerakan ini juga dianggap sebagai pelopor tumbuhnya teori-teori strukturalisme.
Formalisme (latin : forma berarti bentuk atau wujud) adalah merupakan cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis, psikologis,  ideologis, dan sosiologis, karena ia sepenuhnya mengarahkan perhatinnya pada bentuk karya sastra itu sendiri.
Pada masa itu pula di Rusia muncul gerakan Pragmatisme yang menekankan isi dan fungsi karya sastra, tapi pada tahun 1915 kaum formalisme yang berpusat di Moskow dan Petogard dengan tokoh-tokohnya seperti Boris Eichenbum, Victor Skhlovsky, dan Roman Jakobson. Namun pada tahun 1930-an Formalisme dilarang oleh pemerintah—yang saat itu Komunis—maka kemudia Roman Jakonson dan Wellek keluar dari Rusia untuk mengembangkan Formalisme di Cekoslovakia dengan dukungan kelompok lingkaran Linguistik Praha.

Kaum Formalisme memperlakukan kesusastraan sebagai satu pemakaian bahasa yang khas, yang mencapai perwujudannya lewat deviasai dan distorsi dari bahasa paraktis yang digunakan untuk proses komunikasi (defamiliarisasi. Pen) . sementara bahasa sastra tidak mempunyai fungsi praktis sama sekali, dan membuat kita memandangnya dengan cara yang benar-benar berbeda... di samping itu, mereka memperlakukan puisi sebagai penggunaan bahasa sastra yang menginti. Maksudnya puisi adalah susunan tuturan yang ke dalamnya terjating keseluruhan tekstur bunyi.
Mereka menganggap bahwa alur yang dapat yang dapat dinilai sebagai karya sastra karena sebuah alur merupakan sebauh penyusuanan kejadian kejadian yang membangun sebuah cerita secara ilahi, sedangkan cerita hanyalah bahan mentah yang menunggu adanya pengolahan tangan dari penulis. Selanjutnya satu alur yang terkecil diberinama motif, yaitu pernyataan tunggal atau lakuan tunggal (oleh Boris Tomashevsky). Motif ada dua motif terikat (terikat oleh cerita)dan motif bebas (tidak begitu esensial ditinjau dari segi cerita). Dalam memandang karya sastra mereka terpaku pada realita nyata (realisme).
Formalisme muncul sebagai reaksi dari kaum Positifis yang terlalu terpaku pada biografi. Beberapa tokoh formalisme antara lain : Roman Jakobson, Sjkovsky, Eichenbaum, Tynjanov, Jan Mukarovsky, Mikhail Makhtin, Boris Tomashevsky, dan lain-lain.[]

Roman Jakobson
D
ia lahir di Moskoe pada tun 1896. Dia merupakan tokoh Formalisme yang meninggal pada tahiun 1982. Dia ma mendirikan Lingkartan Linguistik Moskow pada tahun 1915 yang terpengaruh oleh pemikiran Husserl. Pada akhir tahun 1920 ia meninggalkan Moskow menuju Praha dan apda tahun 1930-an dia sempat bekerja sama dengan Nilolai Trobetskoy yang mengarahkan Jakobson pada gagasan bahwa suara dalam bahasa berfungsi secara diferensial... Pada tahun 1929 Jakobson menerbitkan catatan evolusi fonologi bahasa Rusia yang dibandingkan dengan bahasa-bahasa Slavia lainnya. Pada tahun 1930-an ia berkelana ke Swedia dan dan Denmark.
Pertama ia menganggapa bahwa bahasa adalah alat komunikasi dan selanjutnya ia mengambangkan sebuah pemikiran bahwa tataran tataran struktur linguistik itu melalui identifikasi penjelasan  tentang penjelasan yang invarian di tengah keragaman yang berlipat ganda. Dia sering memaksa para ahli lingusitik untuk melakukan pendekatan re-rasional. Karena setiap komponen itu dibangun atas oertentangan duahal yang berlawanan secara logis... sifat yang berada pada sesuatu dan tiadanya sifat itu, hal yang berubah dengan hal yang tidak bernah berubah—menurutnya itu saling berkaitan (memiliki rerasional), dibuktika olehnya dengan ciri bahasa yang paling pokok dan paling mendasar pada setiap tingkatannya.
Jacobson sangat terpengaruh oleh Fenomenologi Husserl... sehingga menurutnya , puisi memiliki bentuk paling dekat dengan struktur dimana bagian-bagiannya sama dengan keseluruhannya.
Pemikiran awalnya yang paling penting adalah tentang dua aspek struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaforis retoris ( kesamaan) dan metonimia (kesinambungan). Metonimia tidak boleh dikacaukan oleh sinekdice (bagian yang mewakili keseluruhan)... karenda dalam metonimia hubungan yang ada bersifat eksternal (pena untuk puisi).Istilah struktur dupleks, dia tawarkan sebagai makna serentak yang meinta kode... baginya, bahasa merupakan bentuk interaksi antara langue (struktur atau kode) dan parole (tindak wicara) yang berlangsung secara terus-menerus yang menurut sebagian ahli lingusitik diberi nama shifter.
 Jakobson menyimpulak bahwa antra bunyi dan makna diantarai oleh...ciri khusus. Dia menitik beratkan antara bunyi dan makna, Jakobson memandang bahasa sebagai suatu sistem makna sedangkan wicara itu tidak tersusun dari bunyi/suara tetapi dari fonem, yaitu sekumpulan  ciri bunyi  yang ada secara bersama-sama, yang dipakai dalam bahasa tertentu untuk membedakan bunyi dengan makna yang berbeda-beda. Dari ciri khusus muncul ciri menonjol yang terdapat dalam setiap bahasa yang membentuk aspek-aspek linguistik yang tidak pernah berubah.
...Bahasa hanya dapat dipahami dengan benar sebagai suatu sistem yang merupakan prasyarat dari individualitas.
Semula Jakonson hanya membahas puisi dengan adanya fungsi puitik. Namun kemudian bahsannya berkembang dengan adanya proses komunikasi dalam teks sastra. Menurut Jakobson dalam setiap karya sastra terdapat relasi antra pengarang, teks dan pembaca. Dalam setiap ungkapan terdapat sejumlah fungsi. Dalam pemakaian bahasa fungsi puitislah yang paling dominan karenanya, pesan bahasa yang dimanipulasi secara fonis, grafis leksikosimetris menyadarkan kita bahwa pesan yang bersangkutan harus dibaca sebagai karya sastra.
Dalam Artikelnya yang berjudul “Linguistics and Poetics” Jakobson menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal yaitu pengirim (adresser), pesan (message), penerima (Adresse), konteks, code, dan kontak. Dengan penjelasan sebagai berukut :
“Ali (adresser) mengirimkan sesuatu pesan (message) kepada Fatima (addresse)  pada malam tahun baru (context) sebauh kata-kata atau barang/coklat (code) dan Fatima pun menerimanya (ada contact). Kontak ini sebagai hasil dari proses komunikasi verbal tersebut, yang pada gilirannya menjadi saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan penerima, dan keduanyapun berada dalam sebuah komunikasi.
            Teori komunikasi Jakobson ini merupakan kelanjutan dari teori puitik... Jakobson sering mendefinisikan “fungsi puitik sebagai seperangkat (eintellug) yang mengarah kepada pesan secara terpusat pada pesan itu sendiri, sehingga menjadi fungsi puitik bahasa. Dengan demikian fungis puitik dapat dijumpai dalam semua komunikasi verbal... selain itu untuk lebih memahami fungsi puitik ini kita juga harus memahami kode, informasi, konotatif dan denotatif.
            Di sisi lain Jakobson juga menekankan bahwa teori sasta merupakan cabang ilmu tersendiri. Menurutnya alat atau prinsip-prinsip yang membuat teks menjadi karya seni adalah objek yang pantas bagi sastra. Adapun penelusuran sarana-sarana hanyalah meruakan akibat langsung dari semua aktivitas tidak sadar setiap pembaca.
            Selanjutnya, dia memandang bahwa karya-karya sastra dinilai sebagai sestem dinamik, unsur-unsur di dalamnya disusun menrut relasinya dengan latar depan dan latar belakang. Jika unsur khusus dihapuskan maka unsur yang lain yang akan memegang peran yang dominan...yang dominan itulah yang mengorganisasikan unsur-unsur lain dalam karya individu dan menurunkannya ke latar belakang perhatian estetik.
Studi bahasa puitik mempunyai dua perangkat masalah diantaranya adalah sinkronik dan diakronik. Deskripsi sinkronik tidak hanya menggambarkan produksi dari taraf tertentu, tetapi juga menggambarkan bagian dari tradisi sastra yang bagi taraf itu dianggap vital atau yang dihidupkan kembali.
***
Mikhail Bakhtin
D
ia dilahirkan pada November 1895 dan meninggal pada bulan maret 1975... Pada tahun 1960-an dia sudah menjadi tokoh pujaan Rusia... dia adalah salah satu teoritikus sastra terbaik abad keduapuluh.
Karya-karya Bakhtin dapat dibagi ke dalam tiga periode utama, pertama, Esai-esai awal berisi teori etika dan estetika, kedua, buku dan artikel tentang sejarah novel, ketiga, esai-esai yang diterbitkan setelah dia meninggal yang isinya mengulang tema-tema ulasan di periode kedua.
            Pembicaraan Bakhtin tentang “Karnaval” (periode pertama) adalah berkaitan dengan efek karnaval dalam pada jenis sastra (karnavalisasi).—dimana dalam karnaval diproklamasikan segala hal (antara fakta dan fantasi, surga dan neraka), yang suci menjadi profan, yang tolol menjadi bijaksana, menjadi relativitas yang menggembirakan. Karyanya ini cocok untuk teks-teks khusus dan sejarah-sejarah sastra. Menurutnya kesusastraan awal yang dikarnavalkana adalah doalog Socrates dan satire aliran Manippe. Karnaval yang menggairahkan dapat bertahan dalam bentuk teks.
            “Aspek terpenting dari karnavaal adalah canda tawa, namun, tidak dapat dipersamakan dengan canda tawa dalam kesadaran modern karena canda tawa itu tidak hanya bersifat parodi, setiris dan ironis, tetapi ia bersifat ambiven dan tidak memiliki objek.”
            Dalam telaahnya tentang Novel, Bakhtin berpendapat bahwa diskursus yang bergaya novelis tidak dapt dikatanan sebagai nahasa komunikasi dengan telaah lingusitik, tetapai merupakan suatu lingkuangan dinamis tempat berlangsungnuya pertukaran (dialog). Dalam karya-karya yang bersifat monolog kata... membenruk makna kontekstual di antara mereka... logika yang dokandungnnya pun hanya bersifat tungga (mono)... sehingga ia sangat mudah untuk masuk ke dalam kerangka ideologi, karena aspek ideologi adalah pesan, bukan dalam cata pesan.
            Dalam Periode Formalisme akhir Bakhtin dikatakan dapat menyatukan antara Formalisme dan Marxisme, anatara bahasa dan ideologi itu tidak dapat dipisahkan karena antra bahasa dan ideologi memeiliki hubungan erat dalam hal mendorong kesusastraan ke dalam lingkaran ekonomi dan kemasyarakatan, tanah air dan ideologi.
            Bakhtin tidak memperlakukan kesusastraan sebagai cerminan kekuatan masyarakat yang langsung... Dia tidak menekanlkan bagaimana cara teks-teks merefleksikan masyarakat atau kepentingan-kepantingan kelas, melainkan bagaimana, melainkan bagaimana mengungkapkan bahasa itu bisa mengganggu otoritas dan melepaskan suara-suara alternatif.
            Pengarang adalah sebuah ruang kosong tempat berlangsungnya drama/ pengarang adalah dramatisasi itu sendiri...sehingga dia pun mengatakan bahwa keterampilan berkesenian ada di bawah kontrrol pengarang.
            Bakhtin mengatakan : “Chontrope adalah keterkatan intrinsik hubungan-hubungan ruang dan waktu yang ada di dalam sastra.” Ia digunkan untuk mengklasifikasi genre novel dan menyusun sajarah dan teori novel.

Maxisme

M
enurut Marx, sastra dan semua gejala budaya lainnya mencerminkan pola ekonomi  karena sastra terlkait dengan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakatnnya.
Dalam sastra Marxis tidak mengampakkan adanya...hubungan kesusastraan dengan masyarakat, perkembangan sejarah kondisi-kondisi materialis yang dianggap sebgai dasar sastra. Akan tetapi marxis menolak untuk melihatnya secara terpisah (holistik), maka ia mirip dengan strukturalisme.
            Perbedaan antara keduanya adalah pandangan bahwa struktur-struktur itu sebagai dasar sistem yang abadi yang mengatur dirinya sendiri atau perilaku dan ucapan-ucapan individual berkaitan erat artinya dengan sistem sistem tanda yang melahirkannya. Sedangkan marxisme memandang struktur dilihat sebgai historis, dapat berubah dan penuh dengan pertentangan-pertentangan, atau individual adalah oendukung posisi-posisi dalam sistem masyarakat bukan sebagai agen-agen babas.
            Di antara Tikoh-tokoh maxsisme yaitu antara lain: Marx, Engels, Lukacs, Brecht, Ardono, Benyamin, Althusser, Goldmann, Macherrey, Eagleton, Culler, Fredeic Jameson, dan lain-lain.[]

Georg Lukacs
G
eorg Lukacs (1885-1971) lahir dan selama kecilnya hidup di Hungaria, tetapi dia menjalani pendidikan di Jerman. Pemikiran pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Kant, dan Hegel. Sebagai seorang realisme sosialis ortodoks, bakhtin bersandar pada pemikiran Hegel dan Marxis dengan memperlakukan karya sastra sebagai refleksi dari sistem terbuka. Baginya,sebgai karya realis harus membukukan pola pokok kontradiksi-kontradiksi dalam suatu tatanan sosial...padangannya menekankan pada hakikat material dan sejarah struktur masyarakat.
Penolakan total atas masa lau sama artinya dengan anarki, karena sifat populer sastra itu berdasarkan pada pelestarian tradisi kultural. masa lalu dapat dilihat sebagai pra-sejarah dari masa sekarang.” Dia berpendapat bahwa sastra populer secara deametris bbertentangan dengansastra avantgarde.
            Sebelum Lukacks menajadi marxis ia meyakinai bahwa novel merupakan sebuah epik borjuis... Novel muncul ketika keselaransan dan keharmonisan antara manysia dan dunianya dihancurkan, sehingga tokoh utama novel mencari dan berusaha menemukan kembali totalitasnya...maka novel berubah menjadi bentuk ironis, artinya epik itu telah menjelma: epik dari sbuah dunia yang ditinggalkan Tuhan.” Tapi setelah ia menjadi seorang marxis pandangannya berubah, ia beranggapan bahwa seorang seniman yang baik adalah mereka yang mampu menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis kehidupan manusia.
            Untuk menciptakan semua itu karya seni harus melawan alienasi dan keterpecahan yang ada dalam masyarakat kapitalis, sehingga ia membentuk seuatu gambaran manusia secara menyeluruh dan sempurna. Seni semacam ini disebut sebagai realisme. Karya realis adalah karya yang menampilakan serangkaian hubungan antara manusia alam dan sejarah yang kompleks dan komperhensip.
            Dalam keseluruhan karyanya Lukacs menggunakan istilah refleksi, yaitu menyusun sesebuah struktur mental yang urutannya diubuah ke dalam kata-kata. Karya sastra adalah refleksi (pencerminan) dari realitas. Ia menolak fotografis sebgai penggambaran, lebih lanjut ia mengatakan bahwa karya realislah yang dapat memberikan perasaan.
            Menurut pandangan realismenya, dia menggap bahwa Formalisme itu berada dalam posisi yang beelawanan dengan naturalisme, namun sama-sama menyajikan materi-materi sejarah yang hilang. Naturalisme merupakan objektivitas abstrak sedangkan Formalisme adalah subjektivitas abstrak, dan keduanya telah menyimpang dari pola dialektis yang sejati (realisme)... seperti hlnya naturalisme, formalisme juga menghancurkan kesatuan dialektias antara dunia internal dan dunia eksternal , sehingga individu maupun masyarakt mengalami kekosongam makna.
            Sastra juga meupakan wadah perjuangan kelompok. Karenanya ia harus memberikan sebuah gambaran konseptual.  


Bertold Brecht

D
ia yang hidup antara 1898-1956, adalah termasuk penulis Jerman yang berhaluan kiri, dan termasyhur sebagai seorang penulis drama yang bersifat kritis terhadap kehidupan politik dan sosial. Seni selain berfungsi sebagai hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan dan komunikasi massa.
Drama-drama awal Brecht itu radikal, anarkistik, dan anti-borjuistik tetapi tidak anti-kapitalis.
Sebagai seorang anti realisme dia berwanan denga Lukacs yang memuji drama aristoteles, olej karena itu ia menyebut teorinya dengan istilah “anti-aliran aristoteles”, menurutnya seorang dramawan hendaknya menghindari alur yang dihubungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti.
Menurutnya, untuk menghindarkan para penonton dari peninabonoan dalam penerimaan yang pasif , ilusi.Kenyataan itu harus diremukkan dengan menggunakan efek alisenasi, karena pemain bukan berfungsi untuk menunjukkan tetapi mengungkapkan secara spontan idividualitasnhya.situasi, emosi dan dan dilema pelaku-pelaku teater harus dapat dimengerti dari luar dan dihadirkan sebgai yang aneh dan problematik.tetapi bukan berarti seorang pelaku harus menghindari penggunaan perasaan. Untuk melakukan itu rupanya ia meminjam istilah kau formalis “penelanjangan piranti”. Gestur (isyarat gerak) atau lakuan (ackting), harus dipelajari dam dilatih sebagai piranti penyamaian makna ke masyarakat tertentu dari sebuah peran dengan cara yang menarik, karena gestur merupakan cara terpenting untuk memperlihatkan emosi pelaku.
Brecht juga berpikit bahwa ilusi dramatic dalam setetika teater borjusi adalah sesuatu kesatuan yang menyembunyikan keyataan bahwa ilusi tersebut merupakan sesuatu yang dikonstuksi, sedangkan fungsi teater adalah sebagai media hiburan imajinatif bagi orang-orang yang terjerat dalam asumsi bahwa dunia adalah sesuatu yang tetap, terberi dan tidak dapat diubah. Bagi Brench hal semacam itu tidak realistis karena realitas adalah proses yang berubah, diskontinyi dan yang diproduksi oleh manusia. Dengan demikian fungsi teater bukanlah untuk menampilakan suatu realitas yang tetap, tapi bagaimana ia mampu menunjukkan karakter dan peristiwa itu diproduksi secara historis dan berbeda.
“Tidak ada realis yang senag mengulang-ulang paa yang tleh diketahui; yang tidak menunjukkan adanya hubungan yang hidup dengan realita.”... Brecht tidak setuju dengan interpretasi dogmatis dekrit maxis. Asimilasi budaya menurut Brecht bukanlah proses yang aman. Karenanya, Brecht menuliskan bahwa kita tidak perlu terlalu cemas ketika kritikus mencela avant garde sebagai Formalis berdasarkan kutipan-kutipan karya-karya klasik Marxis yang darinya muncul kata form.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar