Resume Buku :
Teori Sastra Kontemporer
& 13 Tokohnya—
Muhammad A. Syuropati
Oleh :
Fahrul Rozi
1125020032
بســــــــــــــم الله الرحمن الرحيم
Formalisme
Rusia
|
P
|
ada
tahun 1910-1915 muncul gerakan Avan garde sebagai gerakan futurisme... dari
sinilah lahir Formalisme Rusia yang pada gilirannya menjadi titik awal munculny
ailmu sastra modern. Gerakan ini juga dianggap sebagai pelopor tumbuhnya
teori-teori strukturalisme.
Formalisme (latin : forma berarti bentuk atau
wujud) adalah merupakan cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang
mengesampingkan data biografis, psikologis,
ideologis, dan sosiologis, karena ia sepenuhnya mengarahkan perhatinnya
pada bentuk karya sastra itu sendiri.
Pada masa itu pula di Rusia muncul gerakan Pragmatisme
yang menekankan isi dan fungsi karya sastra, tapi pada tahun 1915 kaum formalisme
yang berpusat di Moskow dan Petogard dengan tokoh-tokohnya seperti Boris
Eichenbum, Victor Skhlovsky, dan Roman Jakobson. Namun pada tahun 1930-an
Formalisme dilarang oleh pemerintah—yang saat itu Komunis—maka kemudia Roman
Jakonson dan Wellek keluar dari Rusia untuk mengembangkan Formalisme di
Cekoslovakia dengan dukungan kelompok lingkaran Linguistik Praha.
Kaum Formalisme memperlakukan kesusastraan sebagai satu
pemakaian bahasa yang khas, yang mencapai perwujudannya lewat deviasai dan
distorsi dari bahasa paraktis yang digunakan untuk proses komunikasi
(defamiliarisasi. Pen) . sementara bahasa sastra tidak mempunyai fungsi praktis
sama sekali, dan membuat kita memandangnya dengan cara yang benar-benar
berbeda... di samping itu, mereka memperlakukan puisi sebagai penggunaan bahasa
sastra yang menginti. Maksudnya puisi adalah susunan tuturan yang ke dalamnya
terjating keseluruhan tekstur bunyi.
Mereka menganggap bahwa alur yang dapat yang dapat
dinilai sebagai karya sastra karena sebuah alur merupakan sebauh penyusuanan
kejadian kejadian yang membangun sebuah cerita secara ilahi, sedangkan cerita
hanyalah bahan mentah yang menunggu adanya pengolahan tangan dari penulis.
Selanjutnya satu alur yang terkecil diberinama motif, yaitu pernyataan tunggal
atau lakuan tunggal (oleh Boris Tomashevsky). Motif ada dua motif terikat
(terikat oleh cerita)dan motif bebas (tidak begitu esensial ditinjau dari segi
cerita). Dalam memandang karya sastra mereka terpaku pada realita nyata
(realisme).
Formalisme muncul sebagai reaksi dari kaum Positifis yang
terlalu terpaku pada biografi. Beberapa tokoh formalisme antara lain : Roman
Jakobson, Sjkovsky, Eichenbaum, Tynjanov, Jan Mukarovsky, Mikhail Makhtin,
Boris Tomashevsky, dan lain-lain.[]
Roman
Jakobson
|
D
|
ia
lahir di Moskoe pada tun 1896. Dia merupakan tokoh Formalisme yang meninggal
pada tahiun 1982. Dia ma mendirikan Lingkartan Linguistik Moskow pada tahun
1915 yang terpengaruh oleh pemikiran Husserl. Pada akhir tahun 1920 ia
meninggalkan Moskow menuju Praha dan apda tahun 1930-an dia sempat bekerja sama
dengan Nilolai Trobetskoy yang mengarahkan Jakobson pada gagasan bahwa suara
dalam bahasa berfungsi secara diferensial... Pada tahun 1929 Jakobson
menerbitkan catatan evolusi fonologi bahasa Rusia yang dibandingkan dengan
bahasa-bahasa Slavia lainnya. Pada tahun 1930-an ia berkelana ke Swedia dan dan
Denmark.
Pertama ia menganggapa bahwa bahasa adalah alat
komunikasi dan selanjutnya ia mengambangkan sebuah pemikiran bahwa tataran
tataran struktur linguistik itu melalui identifikasi penjelasan tentang penjelasan yang invarian di tengah
keragaman yang berlipat ganda. Dia sering memaksa para ahli lingusitik untuk
melakukan pendekatan re-rasional. Karena setiap komponen itu dibangun atas
oertentangan duahal yang berlawanan secara logis... sifat yang berada pada
sesuatu dan tiadanya sifat itu, hal yang berubah dengan hal yang tidak bernah
berubah—menurutnya itu saling berkaitan (memiliki rerasional), dibuktika
olehnya dengan ciri bahasa yang paling pokok dan paling mendasar pada setiap
tingkatannya.
Jacobson sangat terpengaruh oleh Fenomenologi Husserl...
sehingga menurutnya , puisi memiliki bentuk paling dekat dengan struktur dimana
bagian-bagiannya sama dengan keseluruhannya.
Pemikiran awalnya yang paling penting adalah tentang dua
aspek struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaforis retoris (
kesamaan) dan metonimia (kesinambungan). Metonimia tidak boleh
dikacaukan oleh sinekdice (bagian yang mewakili keseluruhan)... karenda dalam
metonimia hubungan yang ada bersifat eksternal (pena untuk puisi).Istilah
struktur dupleks, dia tawarkan sebagai makna serentak yang meinta kode...
baginya, bahasa merupakan bentuk interaksi antara langue (struktur atau kode)
dan parole (tindak wicara) yang berlangsung secara terus-menerus yang menurut
sebagian ahli lingusitik diberi nama shifter.
Jakobson
menyimpulak bahwa antra bunyi dan makna diantarai oleh...ciri khusus. Dia
menitik beratkan antara bunyi dan makna, Jakobson memandang bahasa sebagai
suatu sistem makna sedangkan wicara itu tidak tersusun dari bunyi/suara tetapi
dari fonem, yaitu sekumpulan ciri
bunyi yang ada secara bersama-sama, yang
dipakai dalam bahasa tertentu untuk membedakan bunyi dengan makna yang
berbeda-beda. Dari ciri khusus muncul ciri menonjol yang terdapat dalam setiap
bahasa yang membentuk aspek-aspek linguistik yang tidak pernah berubah.
...Bahasa hanya dapat dipahami dengan benar sebagai suatu
sistem yang merupakan prasyarat dari individualitas.
Semula Jakonson hanya membahas puisi dengan adanya fungsi
puitik. Namun kemudian bahsannya berkembang dengan adanya proses komunikasi
dalam teks sastra. Menurut Jakobson dalam setiap karya sastra terdapat relasi
antra pengarang, teks dan pembaca. Dalam setiap ungkapan terdapat sejumlah
fungsi. Dalam pemakaian bahasa fungsi puitislah yang paling dominan karenanya,
pesan bahasa yang dimanipulasi secara fonis, grafis leksikosimetris menyadarkan
kita bahwa pesan yang bersangkutan harus dibaca sebagai karya sastra.
Dalam Artikelnya yang berjudul “Linguistics and
Poetics” Jakobson menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang merupakan
faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal yaitu pengirim (adresser),
pesan (message), penerima (Adresse), konteks, code, dan kontak. Dengan
penjelasan sebagai berukut :
“Ali (adresser) mengirimkan sesuatu pesan
(message) kepada Fatima (addresse) pada
malam tahun baru (context) sebauh kata-kata atau barang/coklat (code) dan
Fatima pun menerimanya (ada contact). Kontak ini sebagai hasil dari proses
komunikasi verbal tersebut, yang pada gilirannya menjadi saluran fisik dan
hubungan psikologis antara pengirim dan penerima, dan keduanyapun berada dalam
sebuah komunikasi.
Teori komunikasi Jakobson ini
merupakan kelanjutan dari teori puitik... Jakobson sering mendefinisikan
“fungsi puitik sebagai seperangkat (eintellug) yang mengarah kepada pesan
secara terpusat pada pesan itu sendiri, sehingga menjadi fungsi puitik bahasa.
Dengan demikian fungis puitik dapat dijumpai dalam semua komunikasi verbal...
selain itu untuk lebih memahami fungsi puitik ini kita juga harus memahami
kode, informasi, konotatif dan denotatif.
Di sisi lain Jakobson juga menekankan
bahwa teori sasta merupakan cabang ilmu tersendiri. Menurutnya alat atau
prinsip-prinsip yang membuat teks menjadi karya seni adalah objek yang pantas
bagi sastra. Adapun penelusuran sarana-sarana hanyalah meruakan akibat langsung
dari semua aktivitas tidak sadar setiap pembaca.
Selanjutnya, dia memandang bahwa
karya-karya sastra dinilai sebagai sestem dinamik, unsur-unsur di dalamnya
disusun menrut relasinya dengan latar depan dan latar belakang. Jika unsur
khusus dihapuskan maka unsur yang lain yang akan memegang peran yang dominan...yang
dominan itulah yang mengorganisasikan unsur-unsur lain dalam karya individu dan
menurunkannya ke latar belakang perhatian estetik.
Studi
bahasa puitik mempunyai dua perangkat masalah diantaranya adalah sinkronik dan
diakronik. Deskripsi sinkronik tidak hanya menggambarkan produksi dari taraf
tertentu, tetapi juga menggambarkan bagian dari tradisi sastra yang bagi taraf
itu dianggap vital atau yang dihidupkan kembali.
***
Mikhail Bakhtin
|
D
|
ia
dilahirkan pada November 1895 dan meninggal pada bulan maret 1975... Pada tahun
1960-an dia sudah menjadi tokoh pujaan Rusia... dia adalah salah satu
teoritikus sastra terbaik abad keduapuluh.
Karya-karya Bakhtin dapat dibagi ke dalam tiga periode
utama, pertama, Esai-esai awal berisi teori etika dan estetika, kedua, buku dan
artikel tentang sejarah novel, ketiga, esai-esai yang diterbitkan setelah dia
meninggal yang isinya mengulang tema-tema ulasan di periode kedua.
Pembicaraan Bakhtin tentang
“Karnaval” (periode pertama) adalah berkaitan dengan efek karnaval dalam pada
jenis sastra (karnavalisasi).—dimana dalam karnaval diproklamasikan segala hal
(antara fakta dan fantasi, surga dan neraka), yang suci menjadi profan, yang
tolol menjadi bijaksana, menjadi relativitas yang menggembirakan. Karyanya ini
cocok untuk teks-teks khusus dan sejarah-sejarah sastra. Menurutnya
kesusastraan awal yang dikarnavalkana adalah doalog Socrates dan satire aliran
Manippe. Karnaval yang menggairahkan dapat bertahan dalam bentuk teks.
“Aspek terpenting dari karnavaal
adalah canda tawa, namun, tidak dapat dipersamakan dengan canda tawa dalam
kesadaran modern karena canda tawa itu tidak hanya bersifat parodi, setiris dan
ironis, tetapi ia bersifat ambiven dan tidak memiliki objek.”
Dalam telaahnya tentang Novel, Bakhtin
berpendapat bahwa diskursus yang bergaya novelis tidak dapt dikatanan sebagai
nahasa komunikasi dengan telaah lingusitik, tetapai merupakan suatu lingkuangan
dinamis tempat berlangsungnuya pertukaran (dialog). Dalam karya-karya yang
bersifat monolog kata... membenruk makna kontekstual di antara mereka... logika
yang dokandungnnya pun hanya bersifat tungga (mono)... sehingga ia sangat mudah
untuk masuk ke dalam kerangka ideologi, karena aspek ideologi adalah pesan,
bukan dalam cata pesan.
Dalam Periode Formalisme akhir
Bakhtin dikatakan dapat menyatukan antara Formalisme dan Marxisme, anatara
bahasa dan ideologi itu tidak dapat dipisahkan karena antra bahasa dan ideologi
memeiliki hubungan erat dalam hal mendorong kesusastraan ke dalam lingkaran
ekonomi dan kemasyarakatan, tanah air dan ideologi.
Bakhtin tidak memperlakukan
kesusastraan sebagai cerminan kekuatan masyarakat yang langsung... Dia tidak
menekanlkan bagaimana cara teks-teks merefleksikan masyarakat atau
kepentingan-kepantingan kelas, melainkan bagaimana, melainkan bagaimana
mengungkapkan bahasa itu bisa mengganggu otoritas dan melepaskan suara-suara
alternatif.
Pengarang adalah sebuah ruang kosong
tempat berlangsungnya drama/ pengarang adalah dramatisasi itu sendiri...sehingga
dia pun mengatakan bahwa keterampilan berkesenian ada di bawah kontrrol
pengarang.
Bakhtin mengatakan : “Chontrope
adalah keterkatan intrinsik hubungan-hubungan ruang dan waktu yang ada di dalam
sastra.” Ia digunkan untuk mengklasifikasi genre novel dan menyusun sajarah dan
teori novel.
Maxisme
|
M
|
enurut
Marx, sastra dan semua gejala budaya lainnya mencerminkan pola ekonomi karena sastra terlkait dengan kelas-kelas
yang ada di dalam masyarakatnnya.
Dalam
sastra Marxis tidak mengampakkan adanya...hubungan kesusastraan dengan
masyarakat, perkembangan sejarah kondisi-kondisi materialis yang dianggap
sebgai dasar sastra. Akan tetapi marxis menolak untuk melihatnya secara
terpisah (holistik), maka ia mirip dengan strukturalisme.
Perbedaan antara keduanya adalah
pandangan bahwa struktur-struktur itu sebagai dasar sistem yang abadi yang
mengatur dirinya sendiri atau perilaku dan ucapan-ucapan individual berkaitan
erat artinya dengan sistem sistem tanda yang melahirkannya. Sedangkan marxisme
memandang struktur dilihat sebgai historis, dapat berubah dan penuh dengan
pertentangan-pertentangan, atau individual adalah oendukung posisi-posisi dalam
sistem masyarakat bukan sebagai agen-agen babas.
Di antara Tikoh-tokoh maxsisme yaitu
antara lain: Marx, Engels, Lukacs, Brecht, Ardono, Benyamin, Althusser,
Goldmann, Macherrey, Eagleton, Culler, Fredeic Jameson, dan lain-lain.[]
Georg Lukacs
|
G
|
eorg
Lukacs (1885-1971) lahir dan selama kecilnya hidup di Hungaria, tetapi dia
menjalani pendidikan di Jerman. Pemikiran pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
Aristoteles, Kant, dan Hegel. Sebagai seorang realisme sosialis ortodoks,
bakhtin bersandar pada pemikiran Hegel dan Marxis dengan memperlakukan karya
sastra sebagai refleksi dari sistem terbuka. Baginya,sebgai karya realis harus
membukukan pola pokok kontradiksi-kontradiksi dalam suatu tatanan
sosial...padangannya menekankan pada hakikat material dan sejarah struktur
masyarakat.
“Penolakan total atas masa lau sama artinya dengan anarki,
karena sifat populer sastra itu berdasarkan pada pelestarian tradisi kultural.
masa lalu dapat dilihat sebagai pra-sejarah dari masa sekarang.” Dia
berpendapat bahwa sastra populer secara deametris bbertentangan dengansastra
avantgarde.
Sebelum Lukacks menajadi marxis ia
meyakinai bahwa novel merupakan sebuah epik borjuis... Novel muncul ketika
keselaransan dan keharmonisan antara manysia dan dunianya dihancurkan, sehingga
tokoh utama novel mencari dan berusaha menemukan kembali totalitasnya...maka
novel berubah menjadi bentuk ironis, artinya epik itu telah menjelma: epik dari
sbuah dunia yang ditinggalkan Tuhan.” Tapi setelah ia menjadi seorang marxis
pandangannya berubah, ia beranggapan bahwa seorang seniman yang baik adalah
mereka yang mampu menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis
kehidupan manusia.
Untuk menciptakan semua itu karya
seni harus melawan alienasi dan keterpecahan yang ada dalam masyarakat kapitalis,
sehingga ia membentuk seuatu gambaran manusia secara menyeluruh dan sempurna.
Seni semacam ini disebut sebagai realisme. Karya realis adalah karya yang
menampilakan serangkaian hubungan antara manusia alam dan sejarah yang kompleks
dan komperhensip.
Dalam keseluruhan karyanya Lukacs
menggunakan istilah refleksi, yaitu menyusun sesebuah struktur mental yang
urutannya diubuah ke dalam kata-kata. Karya sastra adalah refleksi
(pencerminan) dari realitas. Ia menolak fotografis sebgai penggambaran, lebih
lanjut ia mengatakan bahwa karya realislah yang dapat memberikan perasaan.
Menurut pandangan realismenya, dia
menggap bahwa Formalisme itu berada dalam posisi yang beelawanan dengan
naturalisme, namun sama-sama menyajikan materi-materi sejarah yang hilang.
Naturalisme merupakan objektivitas abstrak sedangkan Formalisme adalah
subjektivitas abstrak, dan keduanya telah menyimpang dari pola dialektis yang
sejati (realisme)... seperti hlnya naturalisme, formalisme juga menghancurkan
kesatuan dialektias antara dunia internal dan dunia eksternal , sehingga
individu maupun masyarakt mengalami kekosongam makna.
Sastra juga meupakan wadah
perjuangan kelompok. Karenanya ia harus memberikan sebuah gambaran konseptual.
Bertold Brecht
|
D
|
ia
yang hidup antara 1898-1956, adalah termasuk penulis Jerman yang berhaluan
kiri, dan termasyhur sebagai seorang penulis drama yang bersifat kritis
terhadap kehidupan politik dan sosial. Seni selain berfungsi sebagai hiburan
juga berfungsi sebagai media pendidikan dan komunikasi massa.
Drama-drama awal Brecht itu radikal, anarkistik, dan
anti-borjuistik tetapi tidak anti-kapitalis.
Sebagai
seorang anti realisme dia berwanan
denga Lukacs yang memuji drama aristoteles, olej karena itu ia menyebut
teorinya dengan istilah “anti-aliran aristoteles”, menurutnya seorang dramawan
hendaknya menghindari alur yang dihubungkan secara lancar dengan makna dan
nilai-nilai universal yang pasti.
Menurutnya, untuk menghindarkan para penonton dari
peninabonoan dalam penerimaan yang pasif , ilusi.Kenyataan itu harus diremukkan
dengan menggunakan efek alisenasi, karena pemain bukan berfungsi untuk
menunjukkan tetapi mengungkapkan secara spontan idividualitasnhya.situasi,
emosi dan dan dilema pelaku-pelaku teater harus dapat dimengerti dari luar dan
dihadirkan sebgai yang aneh dan problematik.tetapi bukan berarti seorang pelaku
harus menghindari penggunaan perasaan. Untuk melakukan itu rupanya ia meminjam
istilah kau formalis “penelanjangan piranti”. Gestur (isyarat gerak) atau
lakuan (ackting), harus dipelajari dam dilatih sebagai piranti penyamaian makna
ke masyarakat tertentu dari sebuah peran dengan cara yang menarik, karena
gestur merupakan cara terpenting untuk memperlihatkan emosi pelaku.
Brecht
juga berpikit bahwa ilusi dramatic dalam setetika teater borjusi adalah sesuatu
kesatuan yang menyembunyikan
keyataan bahwa ilusi tersebut merupakan sesuatu yang dikonstuksi, sedangkan
fungsi teater adalah sebagai media hiburan imajinatif bagi orang-orang yang
terjerat dalam asumsi bahwa dunia adalah sesuatu yang tetap, terberi dan tidak
dapat diubah. Bagi Brench hal semacam itu tidak realistis karena realitas
adalah proses yang berubah, diskontinyi dan yang diproduksi oleh manusia.
Dengan demikian fungsi teater bukanlah untuk menampilakan suatu realitas yang
tetap, tapi bagaimana ia mampu menunjukkan karakter dan peristiwa itu
diproduksi secara historis dan berbeda.
“Tidak ada realis yang senag mengulang-ulang paa yang
tleh diketahui; yang tidak menunjukkan adanya hubungan yang hidup dengan realita.”...
Brecht tidak setuju dengan interpretasi dogmatis dekrit maxis. Asimilasi budaya
menurut Brecht bukanlah proses yang aman. Karenanya, Brecht menuliskan bahwa
kita tidak perlu terlalu cemas ketika kritikus mencela avant garde sebagai
Formalis berdasarkan kutipan-kutipan karya-karya klasik Marxis yang darinya
muncul kata form.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar