PENILAIAN DALAM KRITIK SASTRA
Analisis atas buku an-Naqd al-Adabiy, Kritik sastra
Hijau Daun
Karya A. Wahid S.Y
Nama : Fahrul Rozi
Univ : UIN Sunan
Gunung Djati Bandung
Kelas : BSA IV A
NIM : 1125020032
Menurut
pandangan penulis dalam bab ini ada beberapa teori penting yang disuguhkan oleh
A Wahid S.y, di antaranya adalah :
A.
Nilai dan Penilaian Karya sastra Berkaitan dengan unsur sosio-historis
Buku A. wahid S.Y.
hlm., 139
Karya
sastra diyakini sebgai media untuk mengekspresikan ide, pikiran, perasaan
manusia. dengan demikian sastra sangan dipengaruhi oleh konteks sosio-historis
di mana seorang sastrawan berada.
Menurut
A. Teeuw karya sastra itu tak ubahnya sebuah artefak bagi para arkeolog, dalam
pengertian karya sastra itu pada wujud awalnya sebagai entitas atau intitusi yang mati. Karya sastra bisa
memiliki ruh atau sesuatu yang berdimensi immaterial (makna, pengertian, dsb).
Teori Bandingan
Senada dengan beberapa teori di atas, menurut H.W Hudson
bila suatu suatu karya sastra dapat didefinisikan sebagai suatu interpretasi
kehidupan berdasarkan bermacam-macam bentuk seni Sastra kritik sastra mungkin
didefinisikan sebagai suatu interpretasi kepada interpretasi itu dan kepada
bentuk-bentuk seni yang memberikan tafsiran terhadap kehidupan.[1]
B.
Pengartian Nilai dan Cara Menjelaskan Nilai
Buku A. Wahid S.Y.
hlm., 139-140
“... Nilai
merupakan sesuatu yang menyenangkan...singkatnya sesuatu yang baik.”
...Penilaian
merupakan satu tema filosofis yang berumur agak muda. Baru pada akhir abad ke-19
mendapatkan kedudukan mantap dalam uraian filsafat akademis.”
...cara yang sering digunakan untuk
menjelaskan apa itu nilai adalah membandingkannya dengan fakta...Fakta
maksudnya adalah sesuatu yang ada atau berlangsung begitu saja...nilai yang
berlaku di sini adalah sesuatu yang belaku, sesuatu yang mengikat atau sesuatu
mengimbau kita.
Fakta
adalah sesuatu yang bisa kita temukan dalam konteks deskriptif dalam artian
semua unsurnya dapat dijelaskan satupersatu dan penjelasan itu dapat diterima
oleh semua individu. Sedang nilai berperan berperan dalam keadaan atau suasana
apresiasi suatu penilaian dan akibatnya
sering akan dinilai secara berbeda oleh berbagai orang.
Kesimpulan
dari nilai dan fakta ialah bahwa nilai selalu terkait dengan penilaian individu
seseorang , sedang dalam fakta selalu terkait atau bersangkutan dengan
ciri-ciri objektif saja...Fakta adalah sesuatu yang selalu mendahului nilai...”
Teori Bandingan
1.
Nilai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti :
ni·lai n 1 harga (dl arti taksiran harga): 2 harga uang (dibandingkan dng harga uang yg lain): 3 angka kepandaian; biji; ponten4 banyak sedikitnya isi; kadar; mutu 5 sifat-sifat (hal-hal) yg penting atau berguna bagi
kemanusiaan6 sesuatu yg
menyempurnakan manusia sesuai dng hakikatnya[2]
2.
Teori Wellek tentang cara menentukan
nilai sastra :
“bagaimana
orang menilai dan menentukan nilai sastra? Harus kita Jawab dengan
definisi-definisi. Seharusnya orang menilai seni sastra seperti adanya; dan
menaksir nilai itu menurut kadar sastra, hakikat, fungsi dan penilaian erat
hubungannya.”[3]
3.
Batas menentukan baik buruknya sajak, dibalik subjektivitas nilai karya sastra
menurut Aoh Kartahadimadja :
“Sebuah
keindahan seni biasanya tidak perlu menunut pengertian yang diletakkan dalam
hasil-hasil seni itu. Apabila keindahan terasa, cukuplah bagi sipendengar atau
peninjau unutk menerimanya akan tetapi bila pengertian itu didapatnya, maka
lebih senanglah ia.”[4]
Pendapat para Ahli di atas kita
dapat menyimpulkan bahwa walau nilai itu bersifat subjektif namun ada batasan
tertentu dalam menilai suatu sastra.
C. Ciri Nilai
Buku
A. Wahid S.Y. hlm., 140
1)
Nilai
Berkaitan dengan subjek, kalau tidak ada subjek yang menilai maka tidak ada
nilai.
2)
Nilai
tampail pada suatu konteks praktis, dimana subjek ingin membuat sesuatu. Dalam
pendakatan yang semata-mata teoritis, tidak akan ada nilai
3)
Nilai-nilai
menyangkut sifat-sifat yang ditambah oleh objek pada sifat-sifat yang dimiliki
oleh objek pada dirinya.
Teori Bandingan
Menurut
Rahmat Djoko Pradopo[5]
diungkapkan bahwa yang menjadi ukuran nilai sastra menurutnya seni itu bersidat
relatif. Sebagai contoh sampai saat ini ada yang dua pandangan besar dalam
menilai berharganya suatu seni ada yang berpandangan ‘seni untuk seni’,dan ada
juga yang berpandangan ‘seni bertujuan’. teori ini menguatkan pendapat Wahid
bahwa nilai sangat berkaitan dengan subjek.
D. Klasifikasi Nilai
Menitikberatkan
sisi manfaat dari suatu hal..suatu hal dapat dikatakan nilai apabila sesuatu
itu dapat memberikan suatu kemanfaatan bagi kemanusiaan secara jamaniah dan
rohaniah...(141) berdasarkan penitikberatan tersebut, Lalu Wahid memberikan
Definisi sebagaiberikut :
“Nilai
merupakan sesuatu yang mempunyai fungsi atau sesuatu yang berarti atau
berharga”
Berangakat
dari definisi tersebut Ia mengambil sebuah klasifikasi nilai menurut Jerman Max
Sheller, yaitu :
-
Nilai-nilai yang menyangkut kesenangan
-
Nilai-nilai Vital
-
Nilai-nilai Rohani
-
Nilai-nilai Religius
Teori Bandingan
Agak berbeda dengan klasifikasi di atas menurut Rachmat
Djoko Pradopo ada tiga pembagian Nilai, yaitu :[6]
-
Nilai Relativisme
-
Nilai Absolutisme
-
Nilai Perspektivisme
Walaupun berbeda, namun secara prinsip Rachmat Djoko Pradopo berpandangans
sama dengan Wahid S.y bahwa ia bersifat subjektif.
E. Penilaian
Dalam Buku Wahid S.y, ia hanya menerangkan proses
pemberian imbuhan (pe-an) dalam karya kata nilai tanpa memberikan perbedaan
arti antara nilai yang menggunakan imbuhan pe-an dengan yang tidak. Padahal
jika ingin memberikan perbedaan, hal yang perlu diungkapkan adalah apa yang
berkaitan perbedaan artinya.
Berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Rachmat Djoko
Pradopo, ia mengatakan bahwa penilaian adalah penjumlahan dari seluruh nilai
yang didapatkan dari sebuat karya sastra. Ini lebih memberikan penjelasan.[7]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar