RESUME BUKU
“Apresiasi Puisi dan Prosa (1995)”
Karya :
Putu Arya Tirtawirya
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Salah Satu
Tugas Mata kuliah “Kritik Sastra 1” Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan
Humaniora
Oleh
Fahrul Rozi
NIM: 1125020032
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG
DJATI
BANDUNG
2014
Bagian Satu
Puisi
1
Puisi Lawan Katanya Bukan Prosa Tapi Ilmu
Prosa Lawan katanya Bukan Puisi tapi
Sajak
Sajak itu puisi tapi puisi itu bukanlah sajak... mungkin
saja dalam sebuah prosa seperti cerpen... terdapat puisi sehingga sering orang
mengatakan : pengarang mengungkapkan segala sesuatu dalam karyanya secara
puitis sekali—tapi tidak pernah terdengar ungkapan; sajakis sekali.
Suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna
yang tersirat, di mana kata-kata condong pada arti yang konotatif—itulah yang
kita maksud dengan puisi... berbeda dengan apa yang kita temui di dalam kamus.
“...Puisi itu bukanlah melukiskan kebenaran, tetapi
memuja kebenaran dan memberi jiwa sesuatu gambaran yang lebih indah...”
Prosa pada dasarnya menggambarkan segala sesuatunya
secara ekslpisit, ia menguraikan dan mejelaskan segala sesuatunya. Namun prosa
berbeda dengan karya ilmiah,jika diibaratkan pada manusia prosa ibarat orang
yang menari –Indah—sedangkan karya ilmiah seperti gerak tubuh yang sewajarnya.
Kalau dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara
pengungkapan yang menyirat, dalam sajak kita dihadapkan pada cara pengungkapan
yang tersirat....sajak “padahakikatnya tidak dapat diuraikan atau analisa
secara tuntas ...sajak adalah cermin ajaib ketika manusia berkaca tampak sosok
dirinya dalam masa lalu kini dan masa datang bergalau disaputi kabut.
Apa
itu sajak? Tidak ada satu definisipun yang bakal dapat menjawab dengan
sempurna.
2
Sajak Mengundang Asosiasi
Bukan Interpretasi
“seorang Kritikus...banyak melakukan kesalahan saat
berhadapan dengan sajak...sajak dianggapnya sebuah objek...padahal ia adalah
subyek. Sebuah subyek yang mengandung asosiasi pembaca, bukan mengandung
interpretasi pembaca.
Para Kritikus...fungsinya adalah memberi bimbingan
apresiasi secara tidak langsung kepada pembaca. Seputar teknik persajakan.
Sajak
pada hakikatnya mengundang kita untuk berasosiasi bukan bertafsir-tafsir.
3
Arti Komunikasi
Dalam
Sebuah Sajak
Membuat sajak tidak seperti membuat prosa yang dapat
dilakukan saat tidak memiliki ide, mencoret menyobek satu kertas sampai dan
menggantinya dengan kertas baru yang kosong dan menjadi satu karya—cerpen
misalnya. Kalaupun bisa yang terjadi adalah puisi yang kosong dan tidak
berbobot.
Ini disebabkan karena peran pikiran
dominan dalam prosa sedangkan dalam puisi yang dominan adalah perasaan. Dengan
demikaian arti komunikasi dalam prosa adalah tidak lepas dari katiannya dengan
pemikiran-pemikiran yang matang atas hidup dan kehidupan manusia sejagat.
Dalam puisi ...Tidak berfilsafat
tapi nyanian nya itu sendiri sudah digelantungi sokap hidup yang penuh kearifan
seorang filsuf...menghadapi kata penyait tidak langas berasosiasi pada pada
kalimat, tapi asosiasinya menjurus pada pengalaman, emosi, dan cita.
Pada hakikatnya sebuah sajak tak
ubahnya sebuah rokok, yang dapat dinikmati oleh seorang perokok.
4
Bobot
dalam Puisi
Bobot merupakan gambaran dari kedewasaan dan kematangan
seseorang selaku penyair...maksudnya adalah...kedewasaan atau kematangan cara
berpikir yang kan memengaruhi sikap kita dalam menganggapi kehidupan yang
menjadi sumber puisi..
Dengan mengajukan pendapat sendiri. Itu sudah merupakan
sebuah proses pendewasaan diri.untuk matang berpikir dalammemecahkan suatu
persoalan..
Berbobot
tidaknya puisi anda hanya dapat ditentukan oleh anda sendiri.
5
Rahasia Puisi
“Sesuatu yang sebenarnya tetap menjadi rahasia sepanjang
masa adalah PUISI...”
Rahasia puisi tidak mungkin dapat kita dekati dengan
kemauan setengah-setengah. Dibutuhkan kemauan bulat, karena hanya dengan kemauan hati penuh,
seorang berhasil mendekati kemudian terseret kedalam pusaran penuh rahasia
tersebut, menyatu dengan keserba-rahasiaan puisi, akhirnya mengungkapkan
kerahasiaan itu lewat puisi itu sendiri.
6
Sebuah Sajak
Adalah sebuah Lukisan
Tapi Kata Bukanlah Cat
Sajak adalah sebuah lukisan, dalam arti bahwa sajak tidak
mungkin diuraikan atau dijelaskan apa maksud artinya. Jangankan oleh orang lain
bahkan oleh penyair itu sendiri (pun tidak bisa).
“Sesungguhnya bagi seorang pelukis, cat adalah suatu
dunia yang sudah jadi taklukkannnya (seperti seekor kuda tunggangan). Tapi
berbeda dengan seorang penyair dalam menghadapai kata-kata. Kata dalam puisi
bukan seekor kuda jinak yang gampang dikendalikan....puisi cenderung bersikap
penaka seperti kijang...dan penyair dari waktu ke waktu perlu berikhtiar untuk
melasonya..”
Khrisna terkenal sebagai seorang pelukis, dan sikap yang
sama rupanya melingkupi dirinya selaku penyair...akhrinya mengakibatkan sajak
yang ia tuliskannya itu terasa kaku, tergenang.
Yang essensial (pada hakikatnya) dalam puisi adalah
kebaruan cara pengungkapan.
7
Simbolisme
Meskipun sama-sama menggunakan kata
tapi ada perbedaan yang menyolok antara seorang penyair dan seorang pengarang,
yaitu seorang penyair condong memperlakukan kata menurut sifatnya yang konotatif
.
Dalam
dunia prosa sebaliknya.
8
Apakah Mantra Itu
Termasuk Ciptasastra?
“Kesusastraan
adalah hasil kreasi manusia...”
Semua kitab suci adalah puisi, tapi
tidak bisa kita masukkan kesusastraan lantaran bukan hasil ciptaan manusia—masksudnya
kitab suci bukan termasuk produk ciptasastra—. Dia itu ciptaan Tuhan, nyayian
Tuhan yang direkam manusia yang kita sebut dengan Nabi.
Kalau para Nabi merekam suara Tuhan
maka demikian pula seorang dukun, mereka merekam suara makhluk halus apakah itu
bernama mamabang, peri atau jin dan sebagainya. Dan hasil rekaman sang dukun
tersebut kita namakan mantra... selalin itu juga kita tidak punya kepentingan
dengan suatu mantra dari maknanya.
Dengan
demikian mantra bukan ciptasastra.
9
Anyambemen
“Anyambemen adalah pemenggalan kata
dalam baris (larik) untuk kemudian memindahkannya ke baris berikutnya. Barang
tentu sama-sama tidak kita inginkan adanya patokan-mati untuk ini, tergantung
intuisi kita masing-masing.”—jadi dalam membuat anyambemen ilmunya tidak dapat
dipelajari tapi lahir dari intuisi dan intuisi dapat lahir dari latihan, dan
pembiasaan. pen.
10
Di Belakang
Keindahan
Sebuah Sajak
Ada tiga pilar penopang keindahan sebuah karya seni , “kata
Leo Tolstoy. (pilar-pilat tersebut) Yaitu bentuk, isi, da kejujuran.
Mengabaikan salah satunya sudah menimbulakan ketimpangan. Apalagi dua.
“..Bahasa
membentuk bentuk khas puisi..”.
“Isi
adalah misteri... (yaitu) “sesuatu hal
yang tidak dapat diurai”.
“Kejujuran... berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan
sajar-sajak buah tangan penyair tertentu
yang teleh memberikan jaminan atas kejujurannya menciptakan puisi.”
11
Puisi Transparan dan Prismatis
Sekali tempo kita berhadapan dengan sajak-sajak yang
terang atau samar-samar isinya...juga “yang demikian gelap isinya, tidak dapat
tertangkap maksudnya (dalam) sekali baca.
Persajakan dibagi ke dalam dua golongan, transparan/diaphan...berarti
jernih, bening... (maksudnya bisa dengan mudah dipahami maksudnya) dan ada pula
“Puisi pesimistis” yaitu lawan dari puisi transparan (tidak tampak maknanya).
12
Proses Lahirnya Sebuah Sajak
Ada dua proses yang terdapat saat lahirnya sebuah sajak,
“Ada proses pendulangan (mencurahkan inspirasi) dan proses Pengasahan
(memperbaiki)”, keduanya tidak boleh
bercampur aduk.
Tangkap atau rekamlah keseluruhan isi sajak terlebih
dahuku. Jangan libatkan diri dengan proses pengasahan sementara isi sajak belum
tuntas di atas kertas. Dan pada saat tiada lagi yang mersti ditulis barulah
proses pengasahan dilakauakan. Mengganti kata-kata dengan yang lebih tepat,
misalnya mengatur bait, irama dan sebagainya menyangkut aspek bentuk, pada
tahap inilah dikerjakan.
Pengasahan
dapat berlangsung lama, beberapa hari, bahkan tahunan.
13
Sutardji Calzoum Bachri, Bir dan Kreativitas
Sutardji menyaratkan penyair untuk mendapatkan inspirasi
itu, ia harus harus mabuk dulu. Daya pukau yang dihasilakan rangkaian kata
tertentu (dalam rangkaian tersebut) itulah yang disebut dengan mantra. Dan
Kredo Sutardji yang melepaskan beban makna dari kata-kata pada hakikatnya
(apabila dianut secara fanatik) akan menjungkirbalikkan teori sastra yang
konvensional-klasik... atas dasar prinsip inilah mengapa saya menolak mantera
sebagai ciptasastra.
Bagian Dua
Prosa
I
Daya Pikat
Sebuah Cerita Pendek
Dalam kesusastraan yang menjadi daya pikat pertama adalah
pengarang. Seorang yang terjun ke dunia karang-mengarang tahap pertama yang dia
usahakan mati-matian adalah popularitas namanya selaku pengarang.
Pengarang yang sudah memperoleh nama, di waktu mengarang
tidak akan bersifat asal bercerita saja...
Menghadapi sebuah cerpen, daya pikat pertama teretak pada
halaman awal terutama tergamntung pada kepandaian pengarang membuka cerita. ...seorang
calon pengarang cerpen (dianjurkan) untuk banyak-banyak membaca cerpen karya
pengarang lain yang sudah masyhur.
Intuisi sebenarnya memegang perang penting—yang sudah
diasah dengan membaca, tentunya.
2
Alinea Awal dan Akhir
Sebuah Cerita
Membaca sebuah cerpen dengan perhatian condong pada isi
cerita semata adalah sebuah kekeliruan yang tak dapat dimaafkan.
Alinea pertama sebuah cerpen itu sebanarnya adalah
merupakan pilihan terakhir sang pengarang setelah ia berulang kali menurunkan
kertas naskah yang gagal dari mesintulisnya.
Di samping alinea awal, para pengarang juga
mempertaruhkan kemampuannya sewaktu mengakhiri cerita yang ditulisnya—aline
akhir...seorang pengarang yang bik akan selalu menyadari bahwa para pembaca
tidak suka digurui, biarkanlah mereka sendiri yang mengambil kesimpulan atas
cerita yang dibawanya.
3
Unsur Cerita
Dalam
Cerita Pendek
Orang awam kadang keliru membedakan mana cerpen, dan mana
kissah atau sketsa semata.
Sebuah cerpen atau short-sory dalam
bahasa inggris pada dasarnya menentut, jelasnya mengadakan tuntunan berupa
kemestian adanya perwatakan pada tokoh cerita. Sang tokoh merupakan sentral ide
dari cerita. Ceritra bermula dari sang tokoh dan nantinya berakhir pada “nasib”
apa yang menimpa tokoh itu pula... Beda dengan sebuah Novel.
4
Humor dan Perbandingan
Dalam
Sebuah Cerpen
“Sebuah cerita pendek... tidak bisa dipisahkan antara isi
dan bentuknya. Isi yang menarik dan berbobot dan menarik mau tidak mau harus
diimbngi pula dengan bentuk yang memuaskan—gaya bahasa dan gaya bercerita
pengarang. ...Gaya bisa dipelajari... malah ada Ilmunya... STILISTIKA”. Tapi
seorang yang telah menguasai stilistika tidak lantas bisa menjadi seorang
pengarang, karena stilistika hanya mempelajari bentuk saja, dan cipta sastra
mencakup isi dan bentuk juga, mengubah isi ini tidak dapat dipelajari. Tapi
bakat.
“Seorang penulis yang baik adalah dia itu pelawak...Pembaca
sastra dapat dibuatnya tertawa, palingtidak senyum di dalam hati mereka.”
“Dan semakin besar kaliber pengarang maka humornyapun
makin samar... Manusia itu sendiri(tokoh) penuh dengan topeng-topeng
psikologis.
Perbandingan, disamping
fungsinya menghidupkan suasana cerita dan memberi warna pada
nusassa-nuansa tertentu yang ingin ditonjolkan pengarang, juga serting
dimanfaatkan oleh pengarang dalam usahanya menampilkan humornya.
5
SorotBalik
(Flash-Back)
Dalam penulisan cerpen bagi mereka yang masih berlatih
akan kesulitan akan menemukan kesulitan dalam menerapkan teori sorot-balik. Melukiskan sepasang muda-mudi yang sedang
memandu kasuing du sebuah tempat tamasya misalnya, pengarang ingin
menggambarkan isi kenangan yang melingkupi tokoh lelaki, di mana tempo hari dia pernah
bersanding dengan cewak lain yang akhinya tercaplok orang lain yang lebih
gesit.
Pengarang menhadapi dua pilihan..(antara) langsung atau
tidak langsung. Kalau secara langsung....mesti dilikiskan secara tiga
dimensi... (kalau) tidak langsung, secara dua dimensi.
6
Perwatakan
Pelaku Cerita
Anthony Trollope ada bilang dalam otobiografinya, bahwa:
Pertama : pengarang harus punya cerita untuk diceritakan.... kekuasaan seorang
pengarang tergantung pada pengamatan dab nenaoyab untuk menerima kesan secara
terus menerus...seorang pengarang harus mempunyai pengetahuan benar-benar
tentang orang-orang yang hendak diceritakan, sehingga ceritanya tetap hidup.
Mereka ini juga harus berubah pula menurut waktu, sebagai
orang-orang biasa... dalam karangn percakapan amatlah penting.(Tapi) tidak
boleh digunakan untuk mempersialkan dan mengajurkan pendapat-pendapat
pengarang, misalnya adalam lapangan politik dan filsafat. Percakapan haru
digunakan untuk melancarkan cerita.
Kemudian.. orang orang dalam cerita harus berbicara
dengan bahasa yang cocok dengan mereka.
7
Plot
Gamabaran yang dimaksudkan dalam plot akan dimengerti
ketika kita dapat menggolongkan jenis cerpen itu. seperti : Cerita Ide, Cerita
Psikologi dan Cerita Plot.
Plot menurut Oemar Djati adalah : “ sturktur penyusun
kejadian-kejadian dalam cerita tapi yang disususn secara logis.”
“Alur itu menyebabkan adanya isi yang bagus.”merentet
secara runtut.
8
Renungan Renungan
Dalam
Karya Sastra
Pengarang itu ada dua. Tukang cerita dan sastrawan. Kita
katakan tukang cerita karena dia menjual cerita yang ditulisnya. Yang
ditulisnya itu adalah commercial-story. Pada umumnya mereka tidak sempat
menghiasi karangannya, dengan renungan kehidupan. Yang dipentingkan adalah
plot, merangkai peristiwa sedemikian rupa sehingga pembaca akan terus bertanya.
Renungan atas kehidupan merupakan
suatu ciri khas yang senantiasa terdapat dalam karya sastra. Inilah sebabnya
mengapa cerita-cerita detektif sepanjang sejarah tidak diklasifikasikan hasil kesusastraan.
Lantaran pengarang tidak sempat menggeluti renungan kehidupan tersebut. Karena
pengarang mengutamakan banyak peristiwa yang terjadi, dan merahasiakan biang
keladinya, serta membongkarnya di akhir cerita.
9
Fungsi Catatan Harian
Dalam
Karang-Mengarang
Para pelukis kenamaan pada masa yuniornya telah melakukan
ribuan kali latihan mencoretkan garis dan sapuan catnya. Akhirnya mereka
menemukan kepribadian pada tarikan garis dan sapuan catnya, sehingga sering
kita dapat menerka siapa pelukisnya sawaktu kita menikmati sebuah lukisan.
Dalam dunia karang-mengarang diperlukan latihan semacam itu, Cuma saja tentunya
tidak bergelimang dengan cat tetapi dengan kata-kata.
Pengarang prosa, penyair, wartawan
yang ingin meningkakan karirnya tidak boleh melalaikan buku catatan hariannya.
Pengararng cerpen misalnya tidak setiap hari mendapatkan ilham.
Begitu juga wartawan yang ingin agar
reportasenya memikat hati, dia harus mengisi buku catatan hariannya dengan
keseriusan menerapkan berbagai gaya penulisan., kalau diteliti maka akan tampak
perbedaan gaya penulisan.
10
Kritik dan Esai
Ada
dua bidang penulisan yang karena dekatnya berdampingan satu dengan yang lain
menyebabkan tidak sedikit orang awam yang terkecoh. Yaitu bentuk lritik dan
esai.
Esai dapat kita klasifikasikan menjadi dua: yang obyektif
dan yang subyektif. Sebuah tulisan barulah dapat disebut esai apabila karangan
itu ditulis tidak secara acak-acakan, gaya bahasa dan cara pengungkapannya
memikat hati.
Sekarang tentang bidang yang termasuk sangat angker:
kritik, raksasa yang menguasai dunia penuh keangkeran buat para seniman, ini
bernama kritikus. Dunia seni rupapun mempunyai “raksasa” yang sakti mandraguna
dan Soewarjono, Bambang Bujono, Sudarmadji, Popo dan lain-lain.
Meskipun sama-sama “raksasa”, di
bidang esai para raksasa hanya bermaksud pamer kesaktian. Tapi dibidang kritik
mereka mulai gentayangan mencari mangsa. Dengan rakus digayangnya
kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sesuatu karya seni.
11
Cerita Picisan, Populer dan Sastra
Cerpen drama dan novel adal bentuk-bentuk karangan yang
bermodalkan cerita dan berdasarkan sifat yang terpancar daripadanya yang
merupakan akibat dari sikap pengarangnya dalam merampungkannya maka kita dapat
menjadi tiga kategori: yang picisan, yang populer dan yang sastra. Tidak saja
kritikus atau sastrawan, bahkan orang awam sekalipun akan dapat merasakan lewat
intuisinya. Cerita picisan pun populer, dikalangan orang awam. Pengarang tak
perlu capek-capek, tampilkan pelaku laki dan perempuan kemudian praktekan
keterampilan berbohong, semakin pintar seorang menyusun kebohongan semakin
mashurlah dia sebagai pengarang.
12
Sastra dan Jurnalistik
Sastra dan jurnalistik adalah dua bidang penulisan yang
berbeda, yang masing-masing bidang tersebut membutuhkan kemampuan berbeda dari
seorang yang akan berkecimpung didalamnya, yang merupakan perbedaan yang
teramat menyolok. Suatu fakta yang harus diakui oleh semua orang termasuk para
ahli di kedua bidang tersebut yaitu bahwa sastra tidak dapat dipelajari oleh semua
orang dalam rangka memperoleh gelar sastrawan.
Melalui pendidikan diperguruan
tinggi, orang cuma akan mendapatkan gelar sarjana sastra, atau doktor ilmu
sastra. Istilah sastrawan dipakai untuk mereka yang menjadi pengarang sastra
dan penyair saja. Tapi sebaliknya gelar wartawan yang memungkinkan untuk
digugus setiap orang lewat suatu pendidikan khusus.
Kalau seorang pelukis menciptakan
keindahan dengan cat, penari dengan gerakan, musikus dengan bunyi, maka seorang
sastrawan menciptakan keindahan dengan bahasa. Itulah sebabnya kesusastraan
disebut juga seni bahasa atau seni sastra. Dalam sikap menghadapi bahasa inilah
sebenarnya terbentang garispemisah yang jelas, garis yang membatasi bidang
kesusastraan di satu pihak dan jurnalistik dipihak lain.
Bahasa adalah alat berkomunikasi
dengan para pembaca/pendengar. Para wartawan mesti berpacu dengan waktu,
masing-masing ingin menyaingi yang lain dalam mengejar sutau berita. Semboyan
“time is money” terus mengiang ditelinga wartawan ketika akan pergi, kalau terlambat
satu hari saja untuk mengcover sebuah cerita akan menimbulkan bencana bagi
dirinya sendiri.
13
Novel dan Roman
“Istilah Roman sebagai suatu bentuk prosa sepanjang
pengetahuan saya cuma terdapat di indonesia. Mulanya sejak zaman penjajahan
Belanda istilah tersebut dipakai orang sebagai terjemah bahasa indonesia untuk
istilah asing Novel...”
“Konon pada sebuah Roman terdapat lebih banyak pelaku
cerita ketimbang sebuah novel. Sebuah roman memungkinkan pengrang untuk
memasukkan pelaku cerita sebanyak mungkin...” Berbeda dengan Roman, Novel
paling banyak mengandung dua tiga orang pelaku penting termasuk seorang yang
jadi pelaku utama. Jalan cerita lurus penaka pohon cemara atau dua garis
siku-siku yang berakhir atau bertemu di ujung cerita.
14
Proses Rampungnya
Sebuah Cerpen
“...Jadi faktor suasana hati (mood) pegang cerita peran
penting dalam proses penciptaan karya sastra. Ada segi baiknya dan segi
buruknya mengandalkan suasana hati ini. Segi baiknya...: menjauhkan kita dari
kerja terburu-buru...dibutuhkan kesabaran luar biasa disamping konsentrasi yang
penuh serta daya bayangkan (image) dan daya mengingat yang kuat.”
“Segi buruknya, proses kreatif ini, ialah sering
terbengkalainya cerpen yang sedang kita tulis...”
15
Lampiran
Berisi lampiran Kedua yang sering di singgung dalam
bab-bab sebelumnya. Cerpen pertama adalah :
Cerpen berjudul
“Langit Biru dan Seekor Gagak Menggarisnya dari Arah Kampung dan kedua “
Menikmati Cerpen
Umar Kayam : “Chief Sitting Bull”
16
Komentar-Komentar
Bab ini berisi komentar komentar para tokoh tentang buku
ini, di antara komentar-komentar tersebut antara lain :
“Membaca
secara keseluruhan buku “Apresiasi Puisi dan Prosa” Karya Putu Tirtawirya ini
memang menarik. Khususnya buat para anak muda yang akan baru atau mulai
berkecimpung dalam dunia sastra khususnya puisi dan prosa. Paling tidak bisa
ditarik manfaatnya banyak dari padanya. Isinya apresiatif, sederhana dan jelas
bukan mustahil mudah dicerna. Disamping juga diberikan contoh-contoh yang
jelas. Nah, baiklah dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab kita tahu buku
apresiasi macam begini memang sedikit ditulis oleh sastrawan-sastrawan kita.”
—Lazudi Ade sage Angkatan bersenjata, 3 Nopember 1979—
Adanya
apresiasi memungkinkan kita mengetahui atau menentukan sebuah sajak atau
ciptaprosa yang sedang kita hadapi itu rendah ataukah tinggi mutunya. Adanya
apresiasi dalam diri pula yang menyebabkan kita tahu bahwa ada penyair yang
menunjukkan kematangan diri dalam bersajak tetapi seluruh sajaknya tetap statis—tidak
ada pembaruan dalam gaya pengugkapan jiwa. Demikian
sehubungan dengan apresiasi yang kita maksudkan, buku “Apresiasi Puisi dan
Prosa” karya pengarang kelahiran kota Mataram ini sangat berguna dimiliki atau
dibaca. Terutama
bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin menikmati hasil sastra.
—Putu Wirya Jatha Karya Bhakti, 17 Oktober 1980 –
Tidak ada komentar:
Posting Komentar