Pages

Senin, 07 April 2014

RESUME BUKU “Apresiasi Puisi dan Prosa (1995)”- Putu Arya Tirtawirya



RESUME BUKU
“Apresiasi Puisi dan Prosa (1995)”
Karya :
Putu Arya Tirtawirya
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Salah Satu Tugas Mata kuliah “Kritik Sastra 1” Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora











Oleh
Fahrul Rozi
NIM: 1125020032



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
 SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014

Bagian Satu
Puisi
1
Puisi Lawan Katanya Bukan Prosa Tapi Ilmu
 Prosa Lawan katanya Bukan Puisi tapi Sajak

Sajak itu puisi tapi puisi itu bukanlah sajak... mungkin saja dalam sebuah prosa seperti cerpen... terdapat puisi sehingga sering orang mengatakan : pengarang mengungkapkan segala sesuatu dalam karyanya secara puitis sekali—tapi tidak pernah terdengar ungkapan; sajakis sekali.

Suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada arti yang konotatif—itulah yang kita maksud dengan puisi... berbeda dengan apa yang kita temui di dalam kamus.

“...Puisi itu bukanlah melukiskan kebenaran, tetapi memuja kebenaran dan memberi jiwa sesuatu gambaran yang lebih indah...”

Prosa pada dasarnya menggambarkan segala sesuatunya secara ekslpisit, ia menguraikan dan mejelaskan segala sesuatunya. Namun prosa berbeda dengan karya ilmiah,jika diibaratkan pada manusia prosa ibarat orang yang menari –Indah—sedangkan karya ilmiah seperti gerak tubuh yang sewajarnya.

Kalau dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara pengungkapan yang menyirat, dalam sajak kita dihadapkan pada cara pengungkapan yang tersirat....sajak “padahakikatnya tidak dapat diuraikan atau analisa secara tuntas ...sajak adalah cermin ajaib ketika manusia berkaca tampak sosok dirinya dalam masa lalu kini dan masa datang bergalau disaputi kabut.

Apa itu sajak? Tidak ada satu definisipun yang bakal dapat menjawab dengan sempurna.

2
Sajak Mengundang Asosiasi
Bukan Interpretasi

“seorang Kritikus...banyak melakukan kesalahan saat berhadapan dengan sajak...sajak dianggapnya sebuah objek...padahal ia adalah subyek. Sebuah subyek yang mengandung asosiasi pembaca, bukan mengandung interpretasi pembaca.

Para Kritikus...fungsinya adalah memberi bimbingan apresiasi secara tidak langsung kepada pembaca. Seputar teknik persajakan.
Sajak pada hakikatnya mengundang kita untuk berasosiasi bukan bertafsir-tafsir.


3
Arti Komunikasi
Dalam
Sebuah Sajak

Membuat sajak tidak seperti membuat prosa yang dapat dilakukan saat tidak memiliki ide, mencoret menyobek satu kertas sampai dan menggantinya dengan kertas baru yang kosong dan menjadi satu karya—cerpen misalnya. Kalaupun bisa yang terjadi adalah puisi yang kosong dan tidak berbobot.
           
        Ini disebabkan karena peran pikiran dominan dalam prosa sedangkan dalam puisi yang dominan adalah perasaan. Dengan demikaian arti komunikasi dalam prosa adalah tidak lepas dari katiannya dengan pemikiran-pemikiran yang matang atas hidup dan kehidupan manusia sejagat.
           
       Dalam puisi ...Tidak berfilsafat tapi nyanian nya itu sendiri sudah digelantungi sokap hidup yang penuh kearifan seorang filsuf...menghadapi kata penyait tidak langas berasosiasi pada pada kalimat, tapi asosiasinya menjurus pada pengalaman, emosi, dan cita.
           Pada hakikatnya sebuah sajak tak ubahnya sebuah rokok, yang dapat dinikmati oleh seorang perokok.

4
Bobot
dalam Puisi

Bobot merupakan gambaran dari kedewasaan dan kematangan seseorang selaku penyair...maksudnya adalah...kedewasaan atau kematangan cara berpikir yang kan memengaruhi sikap kita dalam menganggapi kehidupan yang menjadi sumber puisi..

Dengan mengajukan pendapat sendiri. Itu sudah merupakan sebuah proses pendewasaan diri.untuk matang berpikir dalammemecahkan suatu persoalan..
Berbobot tidaknya puisi anda hanya dapat ditentukan oleh anda sendiri.
5
Rahasia Puisi

“Sesuatu yang sebenarnya tetap menjadi rahasia sepanjang masa adalah PUISI...”
Rahasia puisi tidak mungkin dapat kita dekati dengan kemauan setengah-setengah. Dibutuhkan kemauan bulat,  karena hanya dengan kemauan hati penuh, seorang berhasil mendekati kemudian terseret kedalam pusaran penuh rahasia tersebut, menyatu dengan keserba-rahasiaan puisi, akhirnya mengungkapkan kerahasiaan itu lewat puisi itu sendiri.

6
Sebuah Sajak
Adalah sebuah Lukisan
Tapi Kata Bukanlah Cat

Sajak adalah sebuah lukisan, dalam arti bahwa sajak tidak mungkin diuraikan atau dijelaskan apa maksud artinya. Jangankan oleh orang lain bahkan oleh penyair itu sendiri (pun tidak bisa).

“Sesungguhnya bagi seorang pelukis, cat adalah suatu dunia yang sudah jadi taklukkannnya (seperti seekor kuda tunggangan). Tapi berbeda dengan seorang penyair dalam menghadapai kata-kata. Kata dalam puisi bukan seekor kuda jinak yang gampang dikendalikan....puisi cenderung bersikap penaka seperti kijang...dan penyair dari waktu ke waktu perlu berikhtiar untuk melasonya..”

Khrisna terkenal sebagai seorang pelukis, dan sikap yang sama rupanya melingkupi dirinya selaku penyair...akhrinya mengakibatkan sajak yang ia tuliskannya itu terasa kaku, tergenang.
Yang essensial (pada hakikatnya) dalam puisi adalah kebaruan cara pengungkapan.

          7
Simbolisme

            Meskipun sama-sama menggunakan kata tapi ada perbedaan yang menyolok antara seorang penyair dan seorang pengarang, yaitu seorang penyair condong memperlakukan kata menurut sifatnya yang konotatif .

Dalam dunia prosa sebaliknya.

8
Apakah Mantra Itu
Termasuk Ciptasastra?

“Kesusastraan adalah hasil kreasi manusia...”

            Semua kitab suci adalah puisi, tapi tidak bisa kita masukkan kesusastraan lantaran bukan hasil ciptaan manusia—masksudnya kitab suci bukan termasuk produk ciptasastra—. Dia itu ciptaan Tuhan, nyayian Tuhan yang direkam manusia yang kita sebut dengan Nabi.

            Kalau para Nabi merekam suara Tuhan maka demikian pula seorang dukun, mereka merekam suara makhluk halus apakah itu bernama mamabang, peri atau jin dan sebagainya. Dan hasil rekaman sang dukun tersebut kita namakan mantra... selalin itu juga kita tidak punya kepentingan dengan suatu mantra dari maknanya.

Dengan demikian mantra bukan ciptasastra.


9
Anyambemen
            “Anyambemen adalah pemenggalan kata dalam baris (larik) untuk kemudian memindahkannya ke baris berikutnya. Barang tentu sama-sama tidak kita inginkan adanya patokan-mati untuk ini, tergantung intuisi kita masing-masing.”—jadi dalam membuat anyambemen ilmunya tidak dapat dipelajari tapi lahir dari intuisi dan intuisi dapat lahir dari latihan, dan pembiasaan. pen.

10
Di Belakang
Keindahan
Sebuah Sajak

Ada tiga pilar penopang keindahan sebuah karya seni , “kata Leo Tolstoy. (pilar-pilat tersebut) Yaitu bentuk, isi, da kejujuran. Mengabaikan salah satunya sudah menimbulakan ketimpangan. Apalagi dua.

“..Bahasa membentuk bentuk khas puisi..”.

“Isi adalah misteri... (yaitu)  “sesuatu hal yang tidak dapat diurai”.

“Kejujuran... berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sajar-sajak  buah tangan penyair tertentu yang teleh memberikan jaminan atas kejujurannya menciptakan puisi.”
11
Puisi Transparan dan Prismatis

Sekali tempo kita berhadapan dengan sajak-sajak yang terang atau samar-samar isinya...juga “yang demikian gelap isinya, tidak dapat tertangkap maksudnya (dalam) sekali baca.

Persajakan dibagi ke dalam dua golongan, transparan/diaphan...berarti jernih, bening... (maksudnya bisa dengan mudah dipahami maksudnya) dan ada pula “Puisi pesimistis” yaitu lawan dari puisi transparan (tidak tampak maknanya).

12
Proses Lahirnya Sebuah Sajak

Ada dua proses yang terdapat saat lahirnya sebuah sajak, “Ada proses pendulangan (mencurahkan inspirasi) dan proses Pengasahan (memperbaiki)”,  keduanya tidak boleh bercampur aduk.

Tangkap atau rekamlah keseluruhan isi sajak terlebih dahuku. Jangan libatkan diri dengan proses pengasahan sementara isi sajak belum tuntas di atas kertas. Dan pada saat tiada lagi yang mersti ditulis barulah proses pengasahan dilakauakan. Mengganti kata-kata dengan yang lebih tepat, misalnya mengatur bait, irama dan sebagainya menyangkut aspek bentuk, pada tahap inilah dikerjakan.
Pengasahan dapat berlangsung lama, beberapa hari, bahkan tahunan.

13
Sutardji Calzoum Bachri, Bir dan Kreativitas

Sutardji menyaratkan penyair untuk mendapatkan inspirasi itu, ia harus harus mabuk dulu. Daya pukau yang dihasilakan rangkaian kata tertentu (dalam rangkaian tersebut) itulah yang disebut dengan mantra. Dan Kredo Sutardji yang melepaskan beban makna dari kata-kata pada hakikatnya (apabila dianut secara fanatik) akan menjungkirbalikkan teori sastra yang konvensional-klasik... atas dasar prinsip inilah mengapa saya menolak mantera sebagai ciptasastra.

Bagian Dua
Prosa

I
Daya Pikat
Sebuah Cerita Pendek
Dalam kesusastraan yang menjadi daya pikat pertama adalah pengarang. Seorang yang terjun ke dunia karang-mengarang tahap pertama yang dia usahakan mati-matian adalah popularitas namanya selaku pengarang.

Pengarang yang sudah memperoleh nama, di waktu mengarang tidak akan bersifat asal bercerita saja...

Menghadapi sebuah cerpen, daya pikat pertama teretak pada halaman awal terutama tergamntung pada kepandaian pengarang membuka cerita. ...seorang calon pengarang cerpen (dianjurkan) untuk banyak-banyak membaca cerpen karya pengarang lain yang sudah masyhur.

Intuisi sebenarnya memegang perang penting—yang sudah diasah dengan membaca, tentunya.

2
Alinea Awal dan Akhir
Sebuah Cerita

Membaca sebuah cerpen dengan perhatian condong pada isi cerita semata adalah sebuah kekeliruan yang tak dapat dimaafkan.

Alinea pertama sebuah cerpen itu sebanarnya adalah merupakan pilihan terakhir sang pengarang setelah ia berulang kali menurunkan kertas naskah yang gagal dari mesintulisnya.

Di samping alinea awal, para pengarang juga mempertaruhkan kemampuannya sewaktu mengakhiri cerita yang ditulisnya—aline akhir...seorang pengarang yang bik akan selalu menyadari bahwa para pembaca tidak suka digurui, biarkanlah mereka sendiri yang mengambil kesimpulan atas cerita yang dibawanya.

3
Unsur Cerita
Dalam
Cerita Pendek


Orang awam kadang keliru membedakan mana cerpen, dan mana kissah atau sketsa semata.

            Sebuah cerpen atau short-sory dalam bahasa inggris pada dasarnya menentut, jelasnya mengadakan tuntunan berupa kemestian adanya perwatakan pada tokoh cerita. Sang tokoh merupakan sentral ide dari cerita. Ceritra bermula dari sang tokoh dan nantinya berakhir pada “nasib” apa yang menimpa tokoh itu pula... Beda dengan sebuah Novel.

4
Humor dan Perbandingan
Dalam
Sebuah Cerpen

“Sebuah cerita pendek... tidak bisa dipisahkan antara isi dan bentuknya. Isi yang menarik dan berbobot dan menarik mau tidak mau harus diimbngi pula dengan bentuk yang memuaskan—gaya bahasa dan gaya bercerita pengarang. ...Gaya bisa dipelajari... malah ada Ilmunya... STILISTIKA”. Tapi seorang yang telah menguasai stilistika tidak lantas bisa menjadi seorang pengarang, karena stilistika hanya mempelajari bentuk saja, dan cipta sastra mencakup isi dan bentuk juga, mengubah isi ini tidak dapat dipelajari. Tapi bakat.

“Seorang penulis yang baik adalah dia itu pelawak...Pembaca sastra dapat dibuatnya tertawa, palingtidak senyum di dalam hati mereka.”

“Dan semakin besar kaliber pengarang maka humornyapun makin samar... Manusia itu sendiri(tokoh) penuh dengan topeng-topeng psikologis.

Perbandingan, disamping  fungsinya menghidupkan suasana cerita dan memberi warna pada nusassa-nuansa tertentu yang ingin ditonjolkan pengarang, juga serting dimanfaatkan oleh pengarang dalam usahanya menampilkan humornya.

5
SorotBalik
(Flash-Back)

Dalam penulisan cerpen bagi mereka yang masih berlatih akan kesulitan akan menemukan kesulitan dalam menerapkan teori sorot-balik.  Melukiskan sepasang muda-mudi yang sedang memandu kasuing du sebuah tempat tamasya misalnya, pengarang ingin menggambarkan isi kenangan yang melingkupi tokoh  lelaki, di mana tempo hari dia pernah bersanding dengan cewak lain yang akhinya tercaplok orang lain yang lebih gesit.

Pengarang menhadapi dua pilihan..(antara) langsung atau tidak langsung. Kalau secara langsung....mesti dilikiskan secara tiga dimensi... (kalau) tidak langsung, secara dua dimensi.

6
Perwatakan
Pelaku Cerita

Anthony Trollope ada bilang dalam otobiografinya, bahwa: Pertama : pengarang harus punya cerita untuk diceritakan.... kekuasaan seorang pengarang tergantung pada pengamatan dab nenaoyab untuk menerima kesan secara terus menerus...seorang pengarang harus mempunyai pengetahuan benar-benar tentang orang-orang yang hendak diceritakan, sehingga ceritanya tetap hidup. 

Mereka ini juga harus berubah pula menurut waktu, sebagai orang-orang biasa... dalam karangn percakapan amatlah penting.(Tapi) tidak boleh digunakan untuk mempersialkan dan mengajurkan pendapat-pendapat pengarang, misalnya adalam lapangan politik dan filsafat. Percakapan haru digunakan untuk melancarkan cerita.

Kemudian.. orang orang dalam cerita harus berbicara dengan bahasa yang cocok dengan mereka. 

7
Plot
Gamabaran yang dimaksudkan dalam plot akan dimengerti ketika kita dapat menggolongkan jenis cerpen itu. seperti : Cerita Ide, Cerita Psikologi dan Cerita Plot.

Plot menurut Oemar Djati adalah : “ sturktur penyusun kejadian-kejadian dalam cerita tapi yang disususn secara logis.”

“Alur itu menyebabkan adanya isi yang bagus.”merentet secara runtut.

8
Renungan Renungan
Dalam
Karya Sastra

          Pengarang itu ada dua. Tukang cerita dan sastrawan. Kita katakan tukang cerita karena dia menjual cerita yang ditulisnya. Yang ditulisnya itu adalah commercial-story. Pada umumnya mereka tidak sempat menghiasi karangannya, dengan renungan kehidupan. Yang dipentingkan adalah plot, merangkai peristiwa sedemikian rupa sehingga pembaca akan terus bertanya.

            Renungan atas kehidupan merupakan suatu ciri khas yang senantiasa terdapat dalam karya sastra. Inilah sebabnya mengapa cerita-cerita detektif sepanjang sejarah tidak diklasifikasikan hasil kesusastraan. Lantaran pengarang tidak sempat menggeluti renungan kehidupan tersebut. Karena pengarang mengutamakan banyak peristiwa yang terjadi, dan merahasiakan biang keladinya, serta membongkarnya di akhir cerita.

9
Fungsi Catatan Harian
Dalam
Karang-Mengarang

          Para pelukis kenamaan pada masa yuniornya telah melakukan ribuan kali latihan mencoretkan garis dan sapuan catnya. Akhirnya mereka menemukan kepribadian pada tarikan garis dan sapuan catnya, sehingga sering kita dapat menerka siapa pelukisnya sawaktu kita menikmati sebuah lukisan. Dalam dunia karang-mengarang diperlukan latihan semacam itu, Cuma saja tentunya tidak bergelimang dengan cat tetapi dengan kata-kata.

            Pengarang prosa, penyair, wartawan yang ingin meningkakan karirnya tidak boleh melalaikan buku catatan hariannya. Pengararng cerpen misalnya tidak setiap hari mendapatkan ilham.

            Begitu juga wartawan yang ingin agar reportasenya memikat hati, dia harus mengisi buku catatan hariannya dengan keseriusan menerapkan berbagai gaya penulisan., kalau diteliti maka akan tampak perbedaan gaya penulisan.

10
Kritik dan Esai

          Ada dua bidang penulisan yang karena dekatnya berdampingan satu dengan yang lain menyebabkan tidak sedikit orang awam yang terkecoh. Yaitu bentuk lritik dan esai.

Esai dapat kita klasifikasikan menjadi dua: yang obyektif dan yang subyektif. Sebuah tulisan barulah dapat disebut esai apabila karangan itu ditulis tidak secara acak-acakan, gaya bahasa dan cara pengungkapannya memikat hati.

Sekarang tentang bidang yang termasuk sangat angker: kritik, raksasa yang menguasai dunia penuh keangkeran buat para seniman, ini bernama kritikus. Dunia seni rupapun mempunyai “raksasa” yang sakti mandraguna dan Soewarjono, Bambang Bujono, Sudarmadji, Popo dan lain-lain.

            Meskipun sama-sama “raksasa”, di bidang esai para raksasa hanya bermaksud pamer kesaktian. Tapi dibidang kritik mereka mulai gentayangan mencari mangsa. Dengan rakus digayangnya kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sesuatu karya seni.

11
Cerita Picisan, Populer dan Sastra

Cerpen drama dan novel adal bentuk-bentuk karangan yang bermodalkan cerita dan berdasarkan sifat yang terpancar daripadanya yang merupakan akibat dari sikap pengarangnya dalam merampungkannya maka kita dapat menjadi tiga kategori: yang picisan, yang populer dan yang sastra. Tidak saja kritikus atau sastrawan, bahkan orang awam sekalipun akan dapat merasakan lewat intuisinya. Cerita picisan pun populer, dikalangan orang awam. Pengarang tak perlu capek-capek, tampilkan pelaku laki dan perempuan kemudian praktekan keterampilan berbohong, semakin pintar seorang menyusun kebohongan semakin mashurlah dia sebagai pengarang.

12
Sastra dan Jurnalistik

Sastra dan jurnalistik adalah dua bidang penulisan yang berbeda, yang masing-masing bidang tersebut membutuhkan kemampuan berbeda dari seorang yang akan berkecimpung didalamnya, yang merupakan perbedaan yang teramat menyolok. Suatu fakta yang harus diakui oleh semua orang termasuk para ahli di kedua bidang tersebut yaitu bahwa sastra tidak dapat dipelajari oleh semua orang dalam rangka memperoleh gelar sastrawan.

            Melalui pendidikan diperguruan tinggi, orang cuma akan mendapatkan gelar sarjana sastra, atau doktor ilmu sastra. Istilah sastrawan dipakai untuk mereka yang menjadi pengarang sastra dan penyair saja. Tapi sebaliknya gelar wartawan yang memungkinkan untuk digugus setiap orang lewat suatu pendidikan khusus.

            Kalau seorang pelukis menciptakan keindahan dengan cat, penari dengan gerakan, musikus dengan bunyi, maka seorang sastrawan menciptakan keindahan dengan bahasa. Itulah sebabnya kesusastraan disebut juga seni bahasa atau seni sastra. Dalam sikap menghadapi bahasa inilah sebenarnya terbentang garispemisah yang jelas, garis yang membatasi bidang kesusastraan di satu pihak dan jurnalistik dipihak lain.

            Bahasa adalah alat berkomunikasi dengan para pembaca/pendengar. Para wartawan mesti berpacu dengan waktu, masing-masing ingin menyaingi yang lain dalam mengejar sutau berita. Semboyan “time is money” terus mengiang ditelinga wartawan ketika akan pergi, kalau terlambat satu hari saja untuk mengcover sebuah cerita akan menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri.

13
Novel dan Roman

“Istilah Roman sebagai suatu bentuk prosa sepanjang pengetahuan saya cuma terdapat di indonesia. Mulanya sejak zaman penjajahan Belanda istilah tersebut dipakai orang sebagai terjemah bahasa indonesia untuk istilah asing Novel...”

“Konon pada sebuah Roman terdapat lebih banyak pelaku cerita ketimbang sebuah novel. Sebuah roman memungkinkan pengrang untuk memasukkan pelaku cerita sebanyak mungkin...” Berbeda dengan Roman, Novel paling banyak mengandung dua tiga orang pelaku penting termasuk seorang yang jadi pelaku utama. Jalan cerita lurus penaka pohon cemara atau dua garis siku-siku yang berakhir atau bertemu di ujung cerita.

14
Proses Rampungnya
Sebuah Cerpen

“...Jadi faktor suasana hati (mood) pegang cerita peran penting dalam proses penciptaan karya sastra. Ada segi baiknya dan segi buruknya mengandalkan suasana hati ini. Segi baiknya...: menjauhkan kita dari kerja terburu-buru...dibutuhkan kesabaran luar biasa disamping konsentrasi yang penuh serta daya bayangkan (image) dan daya mengingat yang kuat.”

“Segi buruknya, proses kreatif ini, ialah sering terbengkalainya cerpen yang sedang kita tulis...”
15
Lampiran

Berisi  lampiran Kedua yang sering di singgung dalam bab-bab sebelumnya. Cerpen pertama adalah :

Cerpen berjudul “Langit Biru dan Seekor Gagak Menggarisnya dari Arah Kampung dan kedua “
Menikmati Cerpen Umar Kayam : “Chief Sitting Bull”
16
Komentar-Komentar

Bab ini berisi komentar komentar para tokoh tentang buku ini, di antara komentar-komentar tersebut antara lain :
“Membaca secara keseluruhan buku “Apresiasi Puisi dan Prosa” Karya Putu Tirtawirya ini memang menarik. Khususnya buat para anak muda yang akan baru atau mulai berkecimpung dalam dunia sastra khususnya puisi dan prosa. Paling tidak bisa ditarik manfaatnya banyak dari padanya. Isinya apresiatif, sederhana dan jelas bukan mustahil mudah dicerna. Disamping juga diberikan contoh-contoh yang jelas. Nah, baiklah dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab kita tahu buku apresiasi macam begini memang sedikit ditulis oleh sastrawan-sastrawan kita.”
—Lazudi Ade sage Angkatan bersenjata, 3 Nopember 1979—

Adanya apresiasi memungkinkan kita mengetahui atau menentukan sebuah sajak atau ciptaprosa yang sedang kita hadapi itu rendah ataukah tinggi mutunya. Adanya apresiasi dalam diri pula yang menyebabkan kita tahu bahwa ada penyair yang menunjukkan kematangan diri dalam bersajak tetapi seluruh sajaknya tetap statis—tidak ada pembaruan dalam gaya pengugkapan jiwa. Demikian sehubungan dengan apresiasi yang kita maksudkan, buku “Apresiasi Puisi dan Prosa” karya pengarang kelahiran kota Mataram ini sangat berguna dimiliki atau dibaca. Terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin menikmati hasil sastra.

—Putu Wirya Jatha Karya Bhakti, 17 Oktober 1980 –

Tidak ada komentar:

Posting Komentar